Sunday, 6 November 2016

R O S A L I A





                          
“Siapa wanita itu?”

“Kenapa?”

“Dia wanita sempurna yang pernah kulihat!”

“Jangan bodoh, bung!”

“Mengapa?”

“Sebaiknya kau jangan mengganggunya, jika kau masih menyayangi hidupmu!”

“Maksudmu apa?!”

“Kau pura-pura bodoh atau apa? Kau bisa mati jika mendekatinya.”

“Aku tak mengerti maksudmu?”

“Jangan berlagak kau tak mengerti bung, yang sebenarnya kau sangat mengerti akan hal itu.”

“Katakan saja padaku, apa dampak yang aku dapatkan jika mendaktinya? Sebuah Penolakan! Itu tak berarti apa-apa untukku.”

“Sial, kau akan mati bung! Wanita itu milik seorang bangsawan, dan beberapa bulan lagi akan menjadi kepunyaan yang sah dari seorang bangsawan.”

“Lalu? Karna ia milik bangsawan, aku tak boleh mendekatinya?”

“Harusnya kau sadar bung! Kau hanya rakyat jelata, juga seorang pedagang sayur. Apa yang bisa kau beri kepada gadis itu? Dan, kita hanya pedagang kecil bung, jangan membuat masalah dengan kalangan atas, jika kau masih ingin hidup.”

“Aku tak takut sediktpun.”

“Kau tak mengerti bangsawan semacam apa yang akan kau hadapi!”

“Memangnya dia sehebat apa?”

 “Bangsawan yang kau bilang sehebat apa? Itu telah membunuh ratusan orang tak bersalah, juga teman-temanku, Tanpa ada hukum yang jelas. Dan bangsawan yang kau bilang sehebat apa? Kurasa ia akan membunuhmu dengan sangat keji, jika kau masih nekat untuk mendekati wanita itu.”

 “Mengapa kau sekarang diam, bung?”   

“Aku bingung saja denganmu, teman-temanmu mati olehnya, dan kau tak melakukan apa-apa... Sungguh memalukan!”

“Apa kau tak mengerti apa yang ku bilang tadi? Dia bisa membunuhku juga, dan aku tak ingin menjadi orang yang mati sia-sia ditangnnya.”

“Kau teman bangsat!”

“Ya, aku memang bangsat! Bangsat yang menyangi hidupnya.” Ujar Herman.

Herman lalu membuang mukanya kepada orang-orang di depannya. Mengacuhkan pria asing keras kepala di sampingnya. Karna ia tahu bahwa percakapannya tak akan memperoleh apapun, selain sebuah perselisihan. Herman juga memaklumi bahwa lelaki itu masih sangat muda. Ia belum tahu banyak tentang dunia. Bicaranya lebih cepat dari otaknya bekerja. Anak muda yang tolol.

Tidak ada yang menampik bahwa Rosalia memang cantik. Gadis itu melambangkan kesempurnaan seorang wanita. Bibirnya tak pernah dipasangi gincu, dan itu yang membuatnya menarik. Matanya bulat hitam, dagunya sedikit tajam. Wajahnya putih bersih, dan juga Rambutnya hitam panjang menerjang bahu. Dan yang menambah pesonanya, ialah caranya berbicara. Lembut dan tenang, seperti berbisik.

Keesokan harinya dengan wajah yang bersahabat, lelaki asing yang kemarin berselisih dengannya mengakui kesalahannya, bahwa ia tak sepatutnya berkata seperti itu kepada Herman, Apalagi ia lebih cukup umur dibanding dirinya. Dengan sangat dewasa, herman mengindahkan maafnya.

“Ngomong-ngomong, namaku minke.” Kata lelaki itu memulai perkenalan.

“Aku Herman.”

Perkenalan itu membawa dampak besar terhadap hubungan sosial mereka. Sebagai yang lebih tua dan berpengalaman dalam urusan berdagang, herman kadang memberikan ajian seputar berdagang kepada minke. Bahwa sejatinya, untuk berdagang tidak perlu genius, cukup paham matematika dasar dan sedikit kecakapan berbahasa. Ini tak jadi soal jika minke tak menceritakan kepada herman bahwa kemarin merupakan hari pertamanya berdagang, juga merupakan hari pertamanya jatuh cinta.

Herman memulai berdagang di usia lima belas, di saat ayahnya tak sanggup untuk menafkahi ibunya, serta adik-adiknya lagi. Bukan karna ayah herman malas untuk bekerja. Tak lebih dikarnakan, kaki ayahnya tak lagi berguna, itu dikarnakan sebuah kecelakaan. Ayahnya tergelincir dari atap rumah seorang konglomerat, ketika sedang bekerja sebagai tukang. Kedua kakinya patah, hingga menyebabkannya lumpuh. Maka hari-harinya, lebih banyak di kursi tua.

Kini di usianya yang genap tiga puluh delapan tahun, herman sudah menikah dan memiliki dua orang anak, juga sebuah rumah. Meski tak besar, tapi itu cukup untuk menghalangi tidur dari hujan. Ia juga tak lupa untuk menyimpan separuh penghasilannya dari berdagang lauk di kota untuk diberikan kepada ibunya. Setidaknya herman ingat, ia pernah berkata kepada istrinya yang dimana saat itu sedang mengandung anak kedua,

“Aku ingin berhenti berdagang!” Katanya ketika pulang dari pasar.

Istrinya terkejut.

“Lalu kau ingin menjadi apa?” Tanya istrinya.

“Aku ingin menjadi jongos!” Jawabnya mantap.

Ia sadar bahwa berdagang tak akan membuatnya kaya. Maka pilihan jongos tiba-tiba ia pilih untuk menggantikan pekerjaan berdagangnnya. Bukan tanpa sebab, itu telah dipikirkannya dengan sangat matang. Itu dikarnakan temannya berdagang bercerita mengenai temannya dari temannya dan temannya bahwa temannya itu telah memiliki rumah besar dan juga tanah yang luas, itu tak lebih berkerja sebagai jongos.

“Bagaimana bisa?” Tanya herman bingung.

“Ia mendapatkan warisan dari seorang bangsawan.”

Herman melongo.

“Warisan?”

“Sebelum bangsawan itu mati, ia menghibahkan semua kekayaannya kepada jongos itu.” Ujar temannya sangat meyakinkan.

Herman kembali melongo.

 “Apa itu bisa dipercaya?” Tanya istrinya ragu.

Herman tak menjawab. Ia tampak bimbang.

      ------

“Aku tahu bahwa kau menyukai gadis itu. Namanya Rosalia, Ia gadis biasa. Maksudku, ia bukan dari keluarga kelas atas. Ia gadis yang sangat terkenal akan kecantikannya, namun semua lelaki menjauhinya.” Kata Herman.

Minke terdiam. Matanya menatap herman dalam, seakan menunggu penjelasan lainnya lagi.

“Gadis itu, kurasa ia seumuruan denganmu. Ia memang cantik tiada duanya, namun lebih baik kau tak usah mendekatinya, karna si bajingan itu telah memilikinya.” Sambungnya.

Mata minke berapi-api, “Bagaimana jika ternyata Rosalia itu tidak mencintainya!”

“Cinta tidaknya Rosalia, bajingan itu tetap akan menikahinya!” tegas herman.

Satu hal yang tak Minke sadari, bahwa dirinya hanyalah rakyat jelata. Ia kalah dalam segi apapun dari bangsawan itu. Cinta telah membuat otaknya tak berjalan.

“Aku rasa dia penuh dengan tekanan..” Kata minke kepada herman.

Beberapa hari ini, keduanya telah benar-benar dekat.

“Jangan sok tau!” Kelakar herman.

Minke melanjutkan,

“Aku bisa melihat dari matanya, bahwa ia habis menangis semalam.”

Herman menatap mata minke. Ia cukup yakin bahwa Minke merupakan dirinya ketika muda dulu. Ada begitu banyak kesamaan antara dirinya disaat muda dengan Minke, selain memiliki keyakinannya yang kuat, juga kesungguh-sungguhannya, yang tak pernah mengenal takut. Herman menyadari itu. Minke memiliki segalanya, segala yang ia punya dulu. Ia tak keliru soal itu, ia bisa merasakannya. Namun di detik berikutnya, herman tersadar bahwa apa yang Minke miliki merupakan sebuah bencana besar bagi dirinya sendiri. Kota ini membenci orang-orang seperti Minke.

Sudah sejak pagi Minke menunggu gadis itu di balik meja sayurnya. Melihat dari ujung ke ujung, yang tak lebih ia lihat hanya kumpulan manusia sedang berlalu lalang. Hingga sore datang, ia belum juga melihat gadis itu.  

“Kau bilang dia akan datang sekarang?” Tanya minke dengan wajah sedikit kecewa.

Herman tak menjawabnya. Ia malah sibuk dengan para pembeli.

Ini sungguhan, gadis itu berada tepat di hadapannya. Minke terdiam. Darahnya mendidih. Jantungnya berdegup kencang. Seluruh wajahnya memerah. Entah sihir apa yang gadis itu miliki, minke merasa jatuh cinta untuk kedua kalinya.

“Berapa kau jual tomatmu ini?” Tanya Rosalia.

“Ambil saja. Gratis untukmu...” Jawab minke sedikit terbata-bata.
“Benarkah?”

“Yah!”

Rosalia tersenyum. Gigi putihnya mengintip dari balik bibirnya. Itu adalah gigi sempurna yang pernah minke lihat. 

“Kau pemuda yang sangat baik! Jika boleh ku tahu, siapa namamu?” Tanya Rosalia.

“Minke.” Jawabnya. Dengan satu penegasan kembali... “Namaku, Minke.” 

Belum sempat gadis itu berjalan lima langkah untuk meninggalkannya, minke memanggil namanya. 

“Rosalia?” 

Gadis itu menoleh kebelakang.  

“Ada apa minke?” Tanyanya dengan sebaris senyuman.

Lalu dengan wajah pengertian, Minke berkata: “Menangis tak akan menyelesaikan segalanya. Mengapa kau tak melawannya, jika memang kau tak menyukainya. Rosalia, hiduplah bersama apa yang kau cinta.”

Wajah rosalia berubah muram. Tatapan bersahabatnya menghilang. Ia membuang wajahnya seketika itu. Kemudian berjalan kembali dengan langkah dua kali lipat lebih cepat. Ia tak menggubrisnya.

“Kau pantas untuk bahagia!” Teriak minke diantara ratusan kaki yang berjalan.

Apa yang minke katakan itu menghentak hati kecilnya. “Mengapa ia tahu jika aku sering menangis. Bagaimana dia tahu aku sedang mengalami hal yang membuatku tidak bahagia. Bagaimana dia tahu...” Pikir Rosalia.

Ia menangis sepanjang pulang. Menumpahkan air matanya di jalan-jalan. Bukan karna malu, tukang sayur itu mengetahui kemuraman hidupnya. Ia kecewa, dikarnakan ia tak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya sendiri. 

Di waktu yang sama. Amarah herman meledak. 

“Apa yang kau lakukan, minke?!” Teriak herman.

“Aku mencintainya.” Ujar minke. “Aku perlu menyelamatkannya.” Sambungnya. 

Herman terdiam beberapa saat. Tentu ia melihat dirinya di dalam minke. Dahulu ia juga seperti itu.

“Perjanjian kita tidak seperti itu!”

“Aku akan membawanya pergi...”

“Jangan bodoh!” Ucap herman marah.  

“Aku lebih bodoh jika membiarkan apa yang telah salah dan itu aku ketahui!”

Ucapan minke itu membuat herman diam cukup lama. Membuat Herman mengenang lima kawannya yang mati oleh bangsawan itu. Membuatnya melihat dirinya sendiri. Membuatnya merasa bersalah.

Hari-hari berjalan dengan canggung, antara herman dan minke. Tak ada lagi obrolan hangat keduanya. Masing-masing diam, juga tak pernah lagi saling melirik atau menyapa, seperti apa yang biasa mereka lakukan setiap bertemu. Herman lebih banyak memperhatikan dagangannya. Sedangkan minke, lebih banyak melamun. Itu berlangsung beberapa hari, sebelum minke menghilang bak ditelan bumi.

“Yang aku tahu, aku punya banyak waktu untuk menjelaskan seribu alasan agar ia tidak melakukan hal bodoh itu. Aku juga masih punya banyak waktu untuk meruntuhkan keyakinan cintanya, setidaknya untuk menahannya. Aku masih punya waktu untuk merubahnya. Andai aku punya sedikit keberanian.”

Thursday, 22 September 2016

Gadis dan Mimpi Berlayarnya



                       



Aku mengenalnya di moskow. Seorang gadis menarik, yang diam-diam ingin berlayar. Kau tahu bagaimana kerasnya laut, tempat dimana engkau begitu dekat dengan kematian. Ah, aku tak sudi menyukainya. Dan ketika ku katakan padanya mengenai semua itu. Ia malah membentakku.

Semua orang di kedai, mungkin sepakat bahwa gadis itu menarik. Bagaimana tidak, selain ia punya mimpi ingin berlayar. Ternyata ia juga ahli dalam meramu sebuah kopi. Di beberapa bagian, ia kerap kali mengundang decah kagum para penikmat kopi di hadapannya, ketika kedua tangannya menari bersama mesin, deretan kaleng besar, kocokan, cangkir, gelas dan berbagai macam perlengkapan perkakas di meja panjang itu. Mungkin bisa kubilang, gadis itu merupakan magnet mengapa kedai ini selalu ramai. Orang-orang tidak datang untuk menikmati kopi saja. Tapi, ada juga yang datang karna penasaran akan gadis barista ini.

Diantara orang-orang di kedai ini, mungkin hanya aku-lah yang ia kenal baik. Maksudku, kami benar-benar saling mengenal satu sama lain. Kadang kerap kutemui mata-mata cemburu, wajah-wajah penuh kecewa, ketika melihat aku berbincang atau bercanda gurau di satu meja dengannya. 

Setiap kali kupancing mengenai mimpinya, maka obsesinya mengenai pelayaran tak akan pernah diam. Ia selalu berkisah tentang pelayarannya. Bahwa suatu saat, ia percaya akan berlayar di lautan lepas. Dan entah kenapa, aku selalu saja antusias menyimaknya. Meski aku telah mendengarnya berulang-ulang kali.  

Ketahuilah, aku tertarik pada mimpinya. Bagiku ia gadis yang punya mimpi tak lain bagi kebanyakan wanita. Maksudku, ini adalah mimpi pertama yang kutahu bahwa ada seorang wanita ingin berlayar. Bukankah menarik, ketika dimana para wanita ingin hidup nyaman, seorang wanita malah mempertaruhkan hidupnya di sebuah laut. Ku-ulangi... di sebuah LAUT.

“Kau tahu, pelayaran pertama Colombus merupakan perubahan revolusioner bagi sejarah Eropa, dan malahan punya pengaruh lebih besar bagi benua eropa. Anak-anak sekolah semua menghafal tahun 1492 sebagai tahun penting.” Ujarnya.  

“Lalu, apa hubungannya denganmu?” Tanyaku sekenanya.

Ia tersenyum. Mata birunya menatapku dalam.

“Aku ingin seperti dia. Meski aku tak akan mungkin jadi seperti dia, tetapi aku sungguh ingin berlayar. Berdiri disebuah kapal. Mencium harumnya laut. Menikmati suara-suara ombak yang mengadu. Juga laut adalah tempat paling tepat untuk mengenal mata angin.” Katanya mantap. “Berlayar adalah mimpiku sejak kecil!” Sambungnya.

Perkanalanku dengannya terjadi tiga bulan lalu di sebuah perpustakaan pusat kota moskow, Lenin State Library. Hanya ini lah yang tak benar-benar mati dari kehidupan. Setiap dua kali dalam seminggu aku selalu datang ke perpustakaan ini. Meminjam sebuah buku atau terkadang menghabiskan waktuku berjam-jam untuk membaca. Hingga pada suatu hari, aku melihatnya untuk pertama-kalinya, dan ia mencuri perhatianku saat itu. 

Gadis itu mematung di sebuah lemari pinus yang berukuran dua-kali manusia dewasa, dengan panjang sisinya tak lebih dari sebelas meter. Kurang lebih ada enam tumpukan buku pada lemari itu. Dan semuanya merupakan buku-buku lama. Sudah sembilan belas menit berjalan, gadis itu belum menemukan buku yang dicarinya. Aku terus menyimaknya. Dan entah kenapa, perasaanku mendorong menghampirinya, meninggalkan buku di atas meja kayu pinus yang belum kelar ku-baca.

“Mungkin, aku bisa membantu?” Kataku.

Entah karna tidak mendengar suaraku, gadis itu tak menoleh sedikitpun. Ia sibuk memilah-milah buku di hadapannya.

Lalu untuk kedua kalinya, aku menawarkan diri kembali.

“Apa kamu perlu bantuan?”

Ia kemudian menoleh. Menatapku dalam hitungan detik, sebelum kembali sibuk memilah buku-buku itu.

“Saya mencari buku The Journal of Christopher Colombus, cetakan tahun 1893!” Ujarnya tanpa melihatku sedikitpun.

Sudah tiga puluh menit saat dimana aku menawarkan diri untuk ikut mencarinya, buku itu belum kunjung kami temukan.

“Mungkin memang tak ada...” Ujarnya seakan penuh kecewa.

“Pasti ada. Mungkin terselip di antara buku-buku lain.” Kataku saat itu. Meski aku belum yakin bakal menemukannya.

Hingga pada beberapa menit berjalan, aku berhasil menemukannya. Buku itu tertumpuk dan terselip diantara buku-buku besar lainnya. Ia tersenyum saat melihat aku berhasil menemukan-nya.

“Sangat penting yah...” Tanyaku sambil menyodorkan buku itu.

 Sebelum ia dapat menjawab, aku berkata kembali:

“Bukankah buku ini tentang perjalanan Christopher Colombus mengenai pelayarannya!”

Ia diam membisu. Lalu dengan satu senyuman kecil, ia menjawab semuanya.   

Pada tahun 1938 jepang melakukan invasi ke negaraku. Dalam invasinya itu jepang mencoba merebut perbatasan mongolia. Aku dikirim ke Khalkhyn Gol untuk ikut mempertahankan tanah mongolia dan pemerintah perlu untuk mengambil kembali harga dirinya. Pada masa-masa itu, aku tak bisa berbuat apa-apa. Sejujurnya, aku membenci perang. Sebagaimana perang telah merebut orang-orang terdekatku. 

Di tahun 1939 jepang kalah dalam perang itu. Aku kembali ke moskow dengan kenangan pelor di betis. Perang itu membuatku lebih menghargai hidup. Bagaimana tidak, aku melihat ribuan prajurit tewas di hadapanku, bersimbah darah dengan peluru. Dan ketika aku terkena pelor di betis yang dimana membuatku tersungkur di tanah kala itu. Sebuah wajah yang tak asing mengambang begitu saja di kepalaku. 

Dalam masa-masa perangku, aku selalu mengingat gadis itu. Mengingat caranya berbicara, cara mata birunya menatap, caranya tersenyum padaku. Namun, di antara ketiga hal itu yang selalu teringat kuat ialah mengenai mimpi Berlayarnya. Aku tak bohong. Bahwa aku menyukai dirinya dan sebagaimana mimpi-mimpinya. 

Saat dimana ia tahu bahwa aku akan pergi berperang, ia menangis dan memeluku. Itu adalah pelukan pertama darinya selama aku mengenalnya. Dan pada saat itu, saat dimana ia memeluku dengan tangis, aku merasakan jatuh cinta untuk pertama-kalinya.
            
      1946

Mimpinya tak membawanya berlayar, ia malah terbang ke langit. Berlayar dengan awan sebagai perahunya dan langit biru sebagai lautnya. Meski begitu, aku tetap membawanya berlayar ke laut, melihatkannya banyak hal yang selama ini ia impikan dalam tidur-tidurnya. Lalu, angin membawanya untuk selama-lamanya.

Kuharap ia menyukai rumah barunya.





Friday, 6 May 2016

Jebakan

                     

Alexa akan sangat membenciku jika ia tahu akulah penyebab Mr. Hudson tewas. Aku tak pernah bisa melupakan kejadian itu, saat dimana Mr. Hudson tewas ditanganku sendiri. Dan seringkali bayangan alexa terbayang-bayang. Aku takut dia akan membenciku dan menjauhiku, ketika dia tahu akulah sosok dibalik kematian ayahnya. Karna bukan perkara mudah sebagai manusia untuk melupakan sesuatu hal buruk yang pernah dilakukannya. Membunuh Mr. hudson tak pernah terlintas dipikiranku. Entah kenapa aku bisa sekeji itu. 

Ketika alexa tahu bahwa Mr. Hudson telah tewas, ia begitu sangat sedih dan berteriak sejadi-jadinya. Tak peduli siapa disekitarnya, atau memang ia tak menghiraukannya. Namun ada yang aneh, aku tak melihat wajah sedih Bill hari itu. Ia malah tersenyum kecil ketika alexa berteriak kesetannan di depan mayat ayahnya. Apa iya sudah tak peduli dengan ayahnya sendiri..

“Seorang telah menunggu anda..” Kata seorang dokter lelaki dengan perawakan gendut dan sedikit berkumis. Sekilas ku tahu namanya Dr. Jonathan, dari papan nama kecil yang menggantung di baju dokter itu.

“Siapa?” Tanyaku bingung.

“Mereka bilang, mereka dari kepolisian..” Jawabnya.

Aku diam beribu bahasa. Aku tahu bahwa mereka meminta keteranganku mengenai mr hudson. Entah aku harus memberi keterangan macam apa, haruskah ku jujur bahwa aku yang telah membunuh mr hudson. Namun aku tak berniat berkata jujur, semua keterangan yang kusampaikan murni kebohonganku semata.

Para polisi itu sekilas tidak seperti polisi. Maksudku, mereka sama sekali tidak memakai baju resminya. kulihat mereka hanya memakai baju biasa, dengan tambahan jaket jeans saja. Aku menolak ketika mereka meminta keteranganku. Namun ketika seorang dari mereka menunjukan lencana polisinya, aku kemudiaan mengindahkan permintaannya.

Polisi itu banyak bertanya kepadaku. Mula-mula dimana aku berada ketika malam Mr. hudson tewas, kedekatan aku dengannya, hubungan aku dengan keluarga mr hudson. kapan aku mengenal keluarga mr hudson. Dan bahkan yang sangat sentimentil sekalipun mereka pertanyakan, bagaimana hubunganku dengan alexa. Dan pertanyaan lainnya.. Aku menjawab semuanya, tak terlewati satu pertanyaan pun. Dan kurasa mereka tak curiga sedikitpun.

Esoknya koran minggu pagi memberitakan mengenai tewasnya mr hudson dengan sangat dramatis. Tengkorak kepala yang retak, dan tiga tikaman berulang-ulang di pinggang. Artikel itu menjadi headline di koran pagi itu. Aku diam memandang artikel itu, tubuhku dingin, sekali-kali berkeringat. Tiba-tiba handphoneku berdering nyaring..

Belum kubicara sepatah katapun, seorang di balik telepon itu berkata, “Apakah ini Tuan Andrea? Tanyanya.

“Ya.” Jawabku.

“Saya dari kepolisan, yang kemarin malam meminta keterangan sodara di rumah sakit. Kami dari kepolisian membutuhkan keterangan lebih lanjut dari sodara. Karna keterangan yang sodara sampaikan belum begitu lengkap. Mohon waktunya untuk lusa bisa datang di kantor kami.. terimakasih.” Kemudian terputus.

Aku bingung hari itu. Entah alibi apa lagi yang harus kepergunakan untuk mengecoh mereka. Pikiranku kosong, dan aku takut sekali. Malam tadi aku tak tidur, Seringkali aku cemas, kadang aku menangis sendiri. Sejak pembunuhan mr hudson, aku jadi sering melamun.

Dua hari setelah kematian mr hudson, alexa menemuiku di flat tempat tinggalku. Ia membawa makanan kesukaanku, dan beberapa obat. Kutatap ia tanpa henti, mengapa ia bisa setegar ini. Maksudku, ia baru saja kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya. Ia tak seperti ketika kutemui di ruang mayat itu. kini ia lebih tenang, senyum manisnya kadang menyembul di balik bibirnya yang merah, meski mata bengkaknya tidak bisa menyembunyikan apapun.

 “Besok ayah akan dimakamkan..” katanya padaku. “Kuharap kamu bisa datang”

Aku lalu menatap mata bulatnya lekat-lekat, sedikit bengkak, tapi tak apa, sama sekali tidak memudarkan wajah cantiknya.

“Aku pasti datang sayang.” Ucapku sambil tersenyum padanya.

Ia membalas senyumku, kemudian menangis. Lalu aku memeluknya.

“Ayah adalah orang yang baik, mengapa ada orang yang setega itu membunuhnya..” ia berbicara tepat dikupingku. “Aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kamu.” Lanjutnya.

“Kan kamu masih punya bill?” Kataku.

Dia terdiam, kemudian melepaskan pelukannya, menyeka air matanya, dan menatapku dalam, seraya berkata “Aku sangat mengharapkanmu untuk datang.” Setelah itu, ia pergi menghilang dari kedua mataku.

Besoknya aku datang ke pemakaman mr hudson, alexa ternyata telah menungguku. Kurang lebih ada tiga puluh orang yang juga sedang berada di pemakaman mr hudson. Dari tiga puluh orang itu, aku bisa menyimpulkan bahwa mereka adalah kerabat dekat, teman kantor, dan teman-teman masa kuliahnya. Ada juga seorang polisi yang pernah meminta keteranganku. Namun anehnya, aku tak melihat bill. Kemana dia?

Prosesi pemakaman itu berjalan lancar, kulihat alexa begitu tegar, ia tak bersedih sedikitpun. Ia terus menggenggam tanganku, tanpa pernah sekalipun di lepasnya. Seorang polisi yang kukatakan tadi, menghampiri kami berdua. Dan ia berkata,

“Saya sangat turut berduka atas kepergian mr hudson. Bagaimanapun ia sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri. Saya janji akan menangkap pelaku pembunuhan itu.” Katanya kepada alexa.

“Saya percaya kepadamu, Robert.” Kata alexa penuh senyum.

Polisi itu membalas senyum alexa.

“Kau wanita yang kuat.” Katanya. Kemudian ia pergi meninggalkan kami berdua.

Setelah kepergian polisi itu. Satu persatu orang yang berada di pemakaman itu, mendatangi alexa. Mereka mengaku turut bersedih atas kematian Mr. Hudson. Dan mengutkan alexa agar tetap tegar seperti sediakala.

Malamnya, Aku tidak bisa tidur kembali. Pikiranku dipenuhi rasa bersalah. Wajah mr. Hudson mengahantuiku setiap kali ku membayangakan alexa. Setiap saat, aku dihantui akan kesalahanku sendiri. Sejujurnya, aku sangat menyesali perbuatanku. Ada Tiga panggilan masuk malam itu. Namun aku tak mempedulikannya.

Pagi-pagi sekali suara ketukan pintu membangunkan tidurku. Aku tak tahu di balik pintu itu siapa. Jikalau alexa ia akan memberikan kabar terlebih dahulu sembelum datang ke Flatku. Dan sudah pasti itu bukan alexa. Ternyata dugaanku benar, dibalik pintu itu berdiri robert seorang.

“Selamat pagi Mr. Andrea apa kedatangan saya mengganggu anda.” tanyanya padaku. Belum sempatku menjawab, Ia berkata kembali “Kedatangan saya kemari ingin memastikan bahwa anda tidak apa-apa.”

“Maksudnya?” Tanyaku bingung.

“Sebelum saya jelaskan, bolehkah saya masuk, agar pembicaraan ini lebih nyaman tentunya.”

“tentu. Silahkan..” Ucapku.

Kubawa ia masuk kerumahku, “Bolehkah...” ujarnya.

“Yah silahkan. Duduklah..”

Setelah ia duduk beberapa saat, ia langsung menyergapku dengan pertanyaan.

“Mengapa anda tidak datang ke kantor kami?” Tanyanya.

“Hmmm Aku kurang sehat.” Jawabku.

“Benarkah... Kukira anda sehat-sehat saja, ketika berada di pemakaman mr hudson.” Ujarnya.

“Entahlah, sepulang dari pemakaman itu, tubuhku jadi tidak enak. Kau tahu kan, musim ini musim yang buruk.”

“Yah benar, Saya setuju. Musim ini sangat tidak bisa diprediksi, kadang hujan, kadang panas terik. Seperti halnya manusia juga, sangat sulit untuk diprediksi.” Katanya.

“Apakah tadi malam anda menangis?” Tanyanya.

“Maksud anda?” 

“Terlihat dari mata anda yang merah dan bengkak.”

“Tidak, ini hanya kemasukan debu..” Belaku.

Tiba-tiba dia terdiam, menatapku dengan tajam.

“Saya tahu anda sedang berbohong..” ujarnya.

“Aku tidak berbohong. Benar, ini kemasukan debu.” Terangku.

“Mr. Andrea, sudahilah kepura-puraan ini.”

Aku diam sesaat. Darahku seperti berhenti mengalir, Ketika ia berbicara seperti itu.


Kemudin ia berbicara kembali, “Aktingmu cukup bagus, bisa mengelabui rekan-rekanku. Rekanku semua percaya pada keteranganmu ketika dirumah sakit itu. Tapi kau tidak bisa mengelabuiku. Saya berada dua langkah di depanmu. Saya tahu banyak tentang dirimu, dari mr hudson. Dan mungkin kau bingung, mengapa bill tak datang di pemakaman ayahnya sendiri? Karna saya memintanya untuk tak datang. Saya meminta keterangannya, dan kau tahu.. Ia banyak cerita tentang dirimu.”

“Baiklah, akan kujelaskan dugaan saya mengapa saya sangat percaya anda adalaah pembunuh mr hudson. Pertama: Ketika saya meminta keterangan, anda memberikan keterangan palsu. Kedua: Saya tahu dari bill, jika hubunganmu dengan alexa sangat rumit. Mr hudson, tidak merestui hubungan kalian bukan. Ketiga: Sikapmu berubah ketika pembunuhan mr hudson, kau sering cemas, dan ketakutan. Dan itulah perasaan yang akan selalu di dapatkan oleh seorang pembunuh. Keempat: mr hudson sangat tidak menyukaimu, itu keluar dari mulutnya sendiri. Jadi kau membunuh mr hudson, agar kau bisa menikahi alexa. Karna sejujurnya, Mr. Hudson tidak merestui hubungan kalian.

“Sebenarnya dugaanku ini sangat lemah dan belum bisa menyeretmu ke dalam penjara. Tetapi mengapa saya sangat seberani ini.. karna matamu. Matamu banyak berbicara lain kepadaku.”

“Akhirnya...”

“Kau mau mengakuinya di depan publik?”

“Tentu.”


                                                    ***


Besoknya, sebuah koran ternama memberitakan mengenai tewasnya polisi muda di sebuah selokan kota, dengan luka yang hampir persis seperti Mr. Hudson.