“Siapa
wanita itu?”
“Kenapa?”
“Dia
wanita sempurna yang pernah kulihat!”
“Jangan
bodoh, bung!”
“Mengapa?”
“Sebaiknya
kau jangan mengganggunya, jika kau masih menyayangi hidupmu!”
“Maksudmu
apa?!”
“Kau
pura-pura bodoh atau apa? Kau bisa mati jika mendekatinya.”
“Aku
tak mengerti maksudmu?”
“Jangan
berlagak kau tak mengerti bung, yang sebenarnya kau sangat mengerti akan hal
itu.”
“Katakan
saja padaku, apa dampak yang aku dapatkan jika mendaktinya? Sebuah Penolakan! Itu
tak berarti apa-apa untukku.”
“Sial,
kau akan mati bung! Wanita itu milik seorang bangsawan, dan beberapa bulan lagi
akan menjadi kepunyaan yang sah dari seorang bangsawan.”
“Lalu?
Karna ia milik bangsawan, aku tak boleh mendekatinya?”
“Harusnya
kau sadar bung! Kau hanya rakyat jelata, juga seorang pedagang sayur. Apa yang
bisa kau beri kepada gadis itu? Dan, kita hanya pedagang kecil bung, jangan
membuat masalah dengan kalangan atas, jika kau masih ingin hidup.”
“Aku
tak takut sediktpun.”
“Kau
tak mengerti bangsawan semacam apa yang akan kau hadapi!”
“Memangnya
dia sehebat apa?”
“Bangsawan yang kau bilang sehebat apa? Itu
telah membunuh ratusan orang tak bersalah, juga teman-temanku, Tanpa ada hukum
yang jelas. Dan bangsawan yang kau bilang sehebat apa? Kurasa ia akan
membunuhmu dengan sangat keji, jika kau masih nekat untuk mendekati wanita itu.”
“Mengapa kau sekarang diam, bung?”
“Aku
bingung saja denganmu, teman-temanmu mati olehnya, dan kau tak melakukan
apa-apa... Sungguh memalukan!”
“Apa
kau tak mengerti apa yang ku bilang tadi? Dia bisa membunuhku juga, dan aku tak
ingin menjadi orang yang mati sia-sia ditangnnya.”
“Kau
teman bangsat!”
“Ya,
aku memang bangsat! Bangsat yang menyangi hidupnya.” Ujar Herman.
Herman
lalu membuang mukanya kepada orang-orang di depannya. Mengacuhkan pria asing
keras kepala di sampingnya. Karna ia tahu bahwa percakapannya tak akan
memperoleh apapun, selain sebuah perselisihan. Herman juga memaklumi bahwa
lelaki itu masih sangat muda. Ia belum tahu banyak tentang dunia. Bicaranya
lebih cepat dari otaknya bekerja. Anak muda yang tolol.
Tidak
ada yang menampik bahwa Rosalia memang cantik. Gadis itu melambangkan
kesempurnaan seorang wanita. Bibirnya tak pernah dipasangi gincu, dan itu yang
membuatnya menarik. Matanya bulat hitam, dagunya sedikit tajam. Wajahnya putih
bersih, dan juga Rambutnya hitam panjang menerjang bahu. Dan yang menambah
pesonanya, ialah caranya berbicara. Lembut dan tenang, seperti berbisik.
Keesokan
harinya dengan wajah yang bersahabat, lelaki asing yang kemarin berselisih
dengannya mengakui kesalahannya, bahwa ia tak sepatutnya berkata seperti itu
kepada Herman, Apalagi ia lebih cukup umur dibanding dirinya. Dengan sangat
dewasa, herman mengindahkan maafnya.
“Ngomong-ngomong,
namaku minke.” Kata lelaki itu memulai perkenalan.
“Aku
Herman.”
Perkenalan
itu membawa dampak besar terhadap hubungan sosial mereka. Sebagai yang lebih
tua dan berpengalaman dalam urusan berdagang, herman kadang memberikan ajian seputar
berdagang kepada minke. Bahwa sejatinya, untuk berdagang tidak perlu genius, cukup
paham matematika dasar dan sedikit kecakapan berbahasa. Ini tak jadi soal jika
minke tak menceritakan kepada herman bahwa kemarin merupakan hari pertamanya
berdagang, juga merupakan hari pertamanya jatuh cinta.
Herman
memulai berdagang di usia lima belas, di saat ayahnya tak sanggup untuk
menafkahi ibunya, serta adik-adiknya lagi. Bukan karna ayah herman malas untuk
bekerja. Tak lebih dikarnakan, kaki ayahnya tak lagi berguna, itu dikarnakan
sebuah kecelakaan. Ayahnya tergelincir dari atap rumah seorang konglomerat,
ketika sedang bekerja sebagai tukang. Kedua kakinya patah, hingga
menyebabkannya lumpuh. Maka hari-harinya, lebih banyak di kursi tua.
Kini
di usianya yang genap tiga puluh delapan tahun, herman sudah menikah dan
memiliki dua orang anak, juga sebuah rumah. Meski tak besar, tapi itu cukup
untuk menghalangi tidur dari hujan. Ia juga tak lupa untuk menyimpan separuh
penghasilannya dari berdagang lauk di kota untuk diberikan kepada ibunya.
Setidaknya herman ingat, ia pernah berkata kepada istrinya yang dimana saat itu sedang
mengandung anak kedua,
“Aku
ingin berhenti berdagang!” Katanya ketika pulang dari pasar.
Istrinya
terkejut.
“Lalu
kau ingin menjadi apa?” Tanya istrinya.
“Aku
ingin menjadi jongos!” Jawabnya mantap.
Ia
sadar bahwa berdagang tak akan membuatnya kaya. Maka pilihan jongos tiba-tiba
ia pilih untuk menggantikan pekerjaan berdagangnnya. Bukan tanpa sebab, itu
telah dipikirkannya dengan sangat matang. Itu dikarnakan temannya berdagang
bercerita mengenai temannya dari temannya dan temannya bahwa temannya itu telah
memiliki rumah besar dan juga tanah yang luas, itu tak lebih berkerja sebagai
jongos.
“Bagaimana
bisa?” Tanya herman bingung.
“Ia
mendapatkan warisan dari seorang bangsawan.”
Herman
melongo.
“Warisan?”
“Sebelum
bangsawan itu mati, ia menghibahkan semua kekayaannya kepada jongos itu.” Ujar
temannya sangat meyakinkan.
Herman
kembali melongo.
“Apa itu bisa dipercaya?” Tanya istrinya ragu.
Herman
tak menjawab. Ia tampak bimbang.
------
“Aku
tahu bahwa kau menyukai gadis itu. Namanya Rosalia, Ia gadis biasa. Maksudku,
ia bukan dari keluarga kelas atas. Ia gadis yang sangat terkenal akan
kecantikannya, namun semua lelaki menjauhinya.” Kata Herman.
Minke
terdiam. Matanya menatap herman dalam, seakan menunggu penjelasan lainnya lagi.
“Gadis
itu, kurasa ia seumuruan denganmu. Ia memang cantik tiada duanya, namun lebih
baik kau tak usah mendekatinya, karna si bajingan itu telah memilikinya.”
Sambungnya.
Mata
minke berapi-api, “Bagaimana jika ternyata Rosalia itu tidak mencintainya!”
“Cinta
tidaknya Rosalia, bajingan itu tetap akan menikahinya!” tegas herman.
Satu
hal yang tak Minke sadari, bahwa dirinya hanyalah rakyat jelata. Ia kalah dalam
segi apapun dari bangsawan itu. Cinta telah membuat otaknya tak berjalan.
“Aku
rasa dia penuh dengan tekanan..” Kata minke kepada herman.
Beberapa
hari ini, keduanya telah benar-benar dekat.
“Jangan
sok tau!” Kelakar herman.
Minke
melanjutkan,
“Aku
bisa melihat dari matanya, bahwa ia habis menangis semalam.”
Herman
menatap mata minke. Ia cukup yakin bahwa Minke merupakan dirinya ketika muda
dulu. Ada begitu banyak kesamaan antara dirinya disaat muda dengan Minke,
selain memiliki keyakinannya yang kuat, juga kesungguh-sungguhannya, yang tak
pernah mengenal takut. Herman menyadari itu. Minke memiliki segalanya, segala
yang ia punya dulu. Ia tak keliru soal itu, ia bisa merasakannya. Namun di
detik berikutnya, herman tersadar bahwa apa yang Minke miliki merupakan sebuah
bencana besar bagi dirinya sendiri. Kota ini membenci orang-orang seperti
Minke.
Sudah
sejak pagi Minke menunggu gadis itu di balik meja sayurnya. Melihat dari ujung
ke ujung, yang tak lebih ia lihat hanya kumpulan manusia sedang berlalu lalang.
Hingga sore datang, ia belum juga melihat gadis itu.
“Kau
bilang dia akan datang sekarang?” Tanya minke dengan wajah sedikit kecewa.
Herman
tak menjawabnya. Ia malah sibuk dengan para pembeli.
Ini
sungguhan, gadis itu berada tepat di hadapannya. Minke terdiam. Darahnya
mendidih. Jantungnya berdegup kencang. Seluruh wajahnya memerah. Entah sihir apa yang gadis itu miliki, minke merasa jatuh cinta
untuk kedua kalinya.
“Berapa
kau jual tomatmu ini?” Tanya Rosalia.
“Ambil
saja. Gratis untukmu...” Jawab minke sedikit terbata-bata.
“Benarkah?”
“Yah!”
Rosalia
tersenyum. Gigi putihnya mengintip dari balik bibirnya. Itu adalah gigi
sempurna yang pernah minke lihat.
“Kau
pemuda yang sangat baik! Jika boleh ku tahu, siapa namamu?” Tanya Rosalia.
“Minke.”
Jawabnya. Dengan satu penegasan kembali... “Namaku, Minke.”
Belum
sempat gadis itu berjalan lima langkah untuk meninggalkannya, minke memanggil
namanya.
“Rosalia?”
Gadis
itu menoleh kebelakang.
“Ada
apa minke?” Tanyanya dengan sebaris senyuman.
Lalu
dengan wajah pengertian, Minke berkata: “Menangis tak akan menyelesaikan
segalanya. Mengapa kau tak melawannya, jika memang kau tak menyukainya.
Rosalia, hiduplah bersama apa yang kau cinta.”
Wajah
rosalia berubah muram. Tatapan bersahabatnya menghilang. Ia membuang wajahnya
seketika itu. Kemudian berjalan kembali dengan langkah dua kali lipat lebih
cepat. Ia tak menggubrisnya.
“Kau
pantas untuk bahagia!” Teriak minke diantara ratusan kaki yang berjalan.
Apa yang minke katakan itu menghentak hati kecilnya. “Mengapa ia tahu jika aku sering
menangis. Bagaimana dia tahu aku sedang mengalami hal yang membuatku tidak
bahagia. Bagaimana dia tahu...” Pikir Rosalia.
Ia
menangis sepanjang pulang. Menumpahkan air matanya di jalan-jalan. Bukan karna
malu, tukang sayur itu mengetahui kemuraman hidupnya. Ia kecewa, dikarnakan ia
tak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya sendiri.
Di
waktu yang sama. Amarah herman meledak.
“Apa
yang kau lakukan, minke?!” Teriak herman.
“Aku
mencintainya.” Ujar minke. “Aku perlu menyelamatkannya.” Sambungnya.
Herman
terdiam beberapa saat. Tentu ia melihat dirinya di dalam minke. Dahulu ia juga
seperti itu.
“Perjanjian
kita tidak seperti itu!”
“Aku
akan membawanya pergi...”
“Jangan
bodoh!” Ucap herman marah.
“Aku
lebih bodoh jika membiarkan apa yang telah salah dan itu aku ketahui!”
Ucapan
minke itu membuat herman diam cukup lama. Membuat Herman mengenang lima kawannya
yang mati oleh bangsawan itu. Membuatnya melihat dirinya sendiri. Membuatnya
merasa bersalah.
Hari-hari
berjalan dengan canggung, antara herman dan minke. Tak ada lagi obrolan hangat
keduanya. Masing-masing diam, juga tak pernah lagi saling melirik atau menyapa,
seperti apa yang biasa mereka lakukan setiap bertemu. Herman lebih banyak
memperhatikan dagangannya. Sedangkan minke, lebih banyak melamun. Itu
berlangsung beberapa hari, sebelum minke menghilang bak ditelan bumi.
“Yang
aku tahu, aku punya banyak waktu untuk menjelaskan seribu alasan agar ia tidak
melakukan hal bodoh itu. Aku juga masih punya banyak waktu untuk meruntuhkan
keyakinan cintanya, setidaknya untuk menahannya. Aku masih punya waktu untuk
merubahnya. Andai aku punya sedikit keberanian.”


