Thursday, 22 September 2016

Gadis dan Mimpi Berlayarnya



                       



Aku mengenalnya di moskow. Seorang gadis menarik, yang diam-diam ingin berlayar. Kau tahu bagaimana kerasnya laut, tempat dimana engkau begitu dekat dengan kematian. Ah, aku tak sudi menyukainya. Dan ketika ku katakan padanya mengenai semua itu. Ia malah membentakku.

Semua orang di kedai, mungkin sepakat bahwa gadis itu menarik. Bagaimana tidak, selain ia punya mimpi ingin berlayar. Ternyata ia juga ahli dalam meramu sebuah kopi. Di beberapa bagian, ia kerap kali mengundang decah kagum para penikmat kopi di hadapannya, ketika kedua tangannya menari bersama mesin, deretan kaleng besar, kocokan, cangkir, gelas dan berbagai macam perlengkapan perkakas di meja panjang itu. Mungkin bisa kubilang, gadis itu merupakan magnet mengapa kedai ini selalu ramai. Orang-orang tidak datang untuk menikmati kopi saja. Tapi, ada juga yang datang karna penasaran akan gadis barista ini.

Diantara orang-orang di kedai ini, mungkin hanya aku-lah yang ia kenal baik. Maksudku, kami benar-benar saling mengenal satu sama lain. Kadang kerap kutemui mata-mata cemburu, wajah-wajah penuh kecewa, ketika melihat aku berbincang atau bercanda gurau di satu meja dengannya. 

Setiap kali kupancing mengenai mimpinya, maka obsesinya mengenai pelayaran tak akan pernah diam. Ia selalu berkisah tentang pelayarannya. Bahwa suatu saat, ia percaya akan berlayar di lautan lepas. Dan entah kenapa, aku selalu saja antusias menyimaknya. Meski aku telah mendengarnya berulang-ulang kali.  

Ketahuilah, aku tertarik pada mimpinya. Bagiku ia gadis yang punya mimpi tak lain bagi kebanyakan wanita. Maksudku, ini adalah mimpi pertama yang kutahu bahwa ada seorang wanita ingin berlayar. Bukankah menarik, ketika dimana para wanita ingin hidup nyaman, seorang wanita malah mempertaruhkan hidupnya di sebuah laut. Ku-ulangi... di sebuah LAUT.

“Kau tahu, pelayaran pertama Colombus merupakan perubahan revolusioner bagi sejarah Eropa, dan malahan punya pengaruh lebih besar bagi benua eropa. Anak-anak sekolah semua menghafal tahun 1492 sebagai tahun penting.” Ujarnya.  

“Lalu, apa hubungannya denganmu?” Tanyaku sekenanya.

Ia tersenyum. Mata birunya menatapku dalam.

“Aku ingin seperti dia. Meski aku tak akan mungkin jadi seperti dia, tetapi aku sungguh ingin berlayar. Berdiri disebuah kapal. Mencium harumnya laut. Menikmati suara-suara ombak yang mengadu. Juga laut adalah tempat paling tepat untuk mengenal mata angin.” Katanya mantap. “Berlayar adalah mimpiku sejak kecil!” Sambungnya.

Perkanalanku dengannya terjadi tiga bulan lalu di sebuah perpustakaan pusat kota moskow, Lenin State Library. Hanya ini lah yang tak benar-benar mati dari kehidupan. Setiap dua kali dalam seminggu aku selalu datang ke perpustakaan ini. Meminjam sebuah buku atau terkadang menghabiskan waktuku berjam-jam untuk membaca. Hingga pada suatu hari, aku melihatnya untuk pertama-kalinya, dan ia mencuri perhatianku saat itu. 

Gadis itu mematung di sebuah lemari pinus yang berukuran dua-kali manusia dewasa, dengan panjang sisinya tak lebih dari sebelas meter. Kurang lebih ada enam tumpukan buku pada lemari itu. Dan semuanya merupakan buku-buku lama. Sudah sembilan belas menit berjalan, gadis itu belum menemukan buku yang dicarinya. Aku terus menyimaknya. Dan entah kenapa, perasaanku mendorong menghampirinya, meninggalkan buku di atas meja kayu pinus yang belum kelar ku-baca.

“Mungkin, aku bisa membantu?” Kataku.

Entah karna tidak mendengar suaraku, gadis itu tak menoleh sedikitpun. Ia sibuk memilah-milah buku di hadapannya.

Lalu untuk kedua kalinya, aku menawarkan diri kembali.

“Apa kamu perlu bantuan?”

Ia kemudian menoleh. Menatapku dalam hitungan detik, sebelum kembali sibuk memilah buku-buku itu.

“Saya mencari buku The Journal of Christopher Colombus, cetakan tahun 1893!” Ujarnya tanpa melihatku sedikitpun.

Sudah tiga puluh menit saat dimana aku menawarkan diri untuk ikut mencarinya, buku itu belum kunjung kami temukan.

“Mungkin memang tak ada...” Ujarnya seakan penuh kecewa.

“Pasti ada. Mungkin terselip di antara buku-buku lain.” Kataku saat itu. Meski aku belum yakin bakal menemukannya.

Hingga pada beberapa menit berjalan, aku berhasil menemukannya. Buku itu tertumpuk dan terselip diantara buku-buku besar lainnya. Ia tersenyum saat melihat aku berhasil menemukan-nya.

“Sangat penting yah...” Tanyaku sambil menyodorkan buku itu.

 Sebelum ia dapat menjawab, aku berkata kembali:

“Bukankah buku ini tentang perjalanan Christopher Colombus mengenai pelayarannya!”

Ia diam membisu. Lalu dengan satu senyuman kecil, ia menjawab semuanya.   

Pada tahun 1938 jepang melakukan invasi ke negaraku. Dalam invasinya itu jepang mencoba merebut perbatasan mongolia. Aku dikirim ke Khalkhyn Gol untuk ikut mempertahankan tanah mongolia dan pemerintah perlu untuk mengambil kembali harga dirinya. Pada masa-masa itu, aku tak bisa berbuat apa-apa. Sejujurnya, aku membenci perang. Sebagaimana perang telah merebut orang-orang terdekatku. 

Di tahun 1939 jepang kalah dalam perang itu. Aku kembali ke moskow dengan kenangan pelor di betis. Perang itu membuatku lebih menghargai hidup. Bagaimana tidak, aku melihat ribuan prajurit tewas di hadapanku, bersimbah darah dengan peluru. Dan ketika aku terkena pelor di betis yang dimana membuatku tersungkur di tanah kala itu. Sebuah wajah yang tak asing mengambang begitu saja di kepalaku. 

Dalam masa-masa perangku, aku selalu mengingat gadis itu. Mengingat caranya berbicara, cara mata birunya menatap, caranya tersenyum padaku. Namun, di antara ketiga hal itu yang selalu teringat kuat ialah mengenai mimpi Berlayarnya. Aku tak bohong. Bahwa aku menyukai dirinya dan sebagaimana mimpi-mimpinya. 

Saat dimana ia tahu bahwa aku akan pergi berperang, ia menangis dan memeluku. Itu adalah pelukan pertama darinya selama aku mengenalnya. Dan pada saat itu, saat dimana ia memeluku dengan tangis, aku merasakan jatuh cinta untuk pertama-kalinya.
            
      1946

Mimpinya tak membawanya berlayar, ia malah terbang ke langit. Berlayar dengan awan sebagai perahunya dan langit biru sebagai lautnya. Meski begitu, aku tetap membawanya berlayar ke laut, melihatkannya banyak hal yang selama ini ia impikan dalam tidur-tidurnya. Lalu, angin membawanya untuk selama-lamanya.

Kuharap ia menyukai rumah barunya.





2 comments: