Aku
mengenalnya di moskow. Seorang gadis menarik, yang diam-diam ingin berlayar.
Kau tahu bagaimana kerasnya laut, tempat dimana engkau begitu dekat dengan
kematian. Ah, aku tak sudi menyukainya. Dan ketika ku katakan padanya mengenai
semua itu. Ia malah membentakku.
Semua orang
di kedai, mungkin sepakat bahwa gadis itu menarik. Bagaimana tidak, selain ia
punya mimpi ingin berlayar. Ternyata ia juga ahli dalam meramu sebuah kopi. Di
beberapa bagian, ia kerap kali mengundang decah kagum para penikmat kopi di
hadapannya, ketika kedua tangannya menari bersama mesin, deretan kaleng besar,
kocokan, cangkir, gelas dan berbagai macam perlengkapan perkakas di meja
panjang itu. Mungkin bisa kubilang, gadis itu merupakan magnet mengapa kedai ini
selalu ramai. Orang-orang tidak datang untuk menikmati kopi saja. Tapi, ada
juga yang datang karna penasaran akan gadis barista ini.
Diantara
orang-orang di kedai ini, mungkin hanya aku-lah yang ia kenal baik. Maksudku,
kami benar-benar saling mengenal satu sama lain. Kadang kerap kutemui mata-mata
cemburu, wajah-wajah penuh kecewa, ketika melihat aku berbincang atau bercanda
gurau di satu meja dengannya.
Setiap kali
kupancing mengenai mimpinya, maka obsesinya mengenai pelayaran tak akan pernah
diam. Ia selalu berkisah tentang pelayarannya. Bahwa suatu saat, ia percaya
akan berlayar di lautan lepas. Dan entah kenapa, aku selalu saja antusias
menyimaknya. Meski aku telah mendengarnya berulang-ulang kali.
Ketahuilah,
aku tertarik pada mimpinya. Bagiku ia gadis yang punya mimpi tak lain bagi
kebanyakan wanita. Maksudku, ini adalah mimpi pertama yang kutahu bahwa ada
seorang wanita ingin berlayar. Bukankah menarik, ketika dimana para wanita
ingin hidup nyaman, seorang wanita malah mempertaruhkan hidupnya di sebuah
laut. Ku-ulangi... di sebuah LAUT.
“Kau tahu,
pelayaran pertama Colombus merupakan perubahan revolusioner bagi sejarah Eropa,
dan malahan punya pengaruh lebih besar bagi benua eropa. Anak-anak sekolah
semua menghafal tahun 1492 sebagai tahun penting.” Ujarnya.
“Lalu, apa
hubungannya denganmu?” Tanyaku sekenanya.
Ia
tersenyum. Mata birunya menatapku dalam.
“Aku ingin
seperti dia. Meski aku tak akan mungkin jadi seperti dia, tetapi aku sungguh
ingin berlayar. Berdiri disebuah kapal. Mencium harumnya laut. Menikmati
suara-suara ombak yang mengadu. Juga laut adalah tempat paling tepat untuk
mengenal mata angin.” Katanya mantap. “Berlayar adalah mimpiku sejak kecil!”
Sambungnya.
Perkanalanku
dengannya terjadi tiga bulan lalu di sebuah perpustakaan pusat kota moskow,
Lenin State Library. Hanya ini lah yang tak benar-benar mati dari
kehidupan. Setiap dua kali dalam seminggu aku selalu datang ke perpustakaan
ini. Meminjam sebuah buku atau terkadang menghabiskan waktuku berjam-jam untuk
membaca. Hingga pada suatu hari, aku melihatnya untuk pertama-kalinya,
dan ia mencuri perhatianku saat itu.
Gadis itu
mematung di sebuah lemari pinus yang berukuran dua-kali manusia dewasa, dengan
panjang sisinya tak lebih dari sebelas meter. Kurang lebih ada enam tumpukan
buku pada lemari itu. Dan semuanya merupakan buku-buku lama. Sudah sembilan
belas menit berjalan, gadis itu belum menemukan buku yang dicarinya. Aku terus
menyimaknya. Dan entah kenapa, perasaanku mendorong menghampirinya,
meninggalkan buku di atas meja kayu pinus yang belum kelar ku-baca.
“Mungkin,
aku bisa membantu?” Kataku.
Entah karna
tidak mendengar suaraku, gadis itu tak menoleh sedikitpun. Ia sibuk
memilah-milah buku di hadapannya.
Lalu untuk
kedua kalinya, aku menawarkan diri kembali.
“Apa kamu
perlu bantuan?”
Ia kemudian
menoleh. Menatapku dalam hitungan detik, sebelum kembali sibuk memilah
buku-buku itu.
“Saya
mencari buku The Journal of Christopher Colombus, cetakan tahun 1893!” Ujarnya
tanpa melihatku sedikitpun.
Sudah tiga puluh
menit saat dimana aku menawarkan diri untuk ikut mencarinya, buku itu belum
kunjung kami temukan.
“Mungkin
memang tak ada...” Ujarnya seakan penuh kecewa.
“Pasti ada.
Mungkin terselip di antara buku-buku lain.” Kataku saat itu. Meski aku belum
yakin bakal menemukannya.
Hingga pada
beberapa menit berjalan, aku berhasil menemukannya. Buku itu tertumpuk dan
terselip diantara buku-buku besar lainnya. Ia tersenyum saat melihat aku
berhasil menemukan-nya.
“Sangat
penting yah...” Tanyaku sambil menyodorkan buku itu.
Sebelum
ia dapat menjawab, aku berkata kembali:
“Bukankah
buku ini tentang perjalanan Christopher Colombus mengenai pelayarannya!”
Ia diam
membisu. Lalu dengan satu senyuman kecil, ia menjawab semuanya.
Pada tahun
1938 jepang melakukan invasi ke negaraku. Dalam invasinya itu jepang mencoba
merebut perbatasan mongolia. Aku dikirim ke Khalkhyn Gol untuk ikut
mempertahankan tanah mongolia dan pemerintah perlu untuk mengambil kembali
harga dirinya. Pada masa-masa itu, aku tak bisa berbuat apa-apa. Sejujurnya,
aku membenci perang. Sebagaimana perang telah merebut orang-orang terdekatku.
Di tahun
1939 jepang kalah dalam perang itu. Aku kembali ke moskow dengan kenangan pelor
di betis. Perang itu membuatku lebih menghargai hidup. Bagaimana tidak, aku
melihat ribuan prajurit tewas di hadapanku, bersimbah darah dengan peluru. Dan
ketika aku terkena pelor di betis yang dimana membuatku tersungkur di tanah
kala itu. Sebuah wajah yang tak asing mengambang begitu saja di kepalaku.
Dalam
masa-masa perangku, aku selalu mengingat gadis itu. Mengingat caranya
berbicara, cara mata birunya menatap, caranya tersenyum padaku. Namun, di
antara ketiga hal itu yang selalu teringat kuat ialah mengenai mimpi
Berlayarnya. Aku tak bohong. Bahwa aku menyukai dirinya dan sebagaimana
mimpi-mimpinya.
Saat dimana
ia tahu bahwa aku akan pergi berperang, ia menangis dan memeluku. Itu adalah
pelukan pertama darinya selama aku mengenalnya. Dan pada saat itu, saat dimana
ia memeluku dengan tangis, aku merasakan jatuh cinta untuk pertama-kalinya.
1946
Mimpinya tak
membawanya berlayar, ia malah terbang ke langit. Berlayar dengan awan sebagai
perahunya dan langit biru sebagai lautnya. Meski begitu, aku tetap membawanya
berlayar ke laut, melihatkannya banyak hal yang selama ini ia impikan dalam
tidur-tidurnya. Lalu, angin membawanya untuk selama-lamanya.
Kuharap ia
menyukai rumah barunya.

Cerita yang apik
ReplyDeleteMakasih yah :D
ReplyDelete