Sumber foto: Google
Saya adalah orang yang lebih mengutamakan Passion saya ketimbang harus mengejar Cita-Cita yang sebenarnya bukan bidang atau keahlian saya. Cita-cita adalah impian manusia atau keinginan yang tumbuh dalam dirinya. Sejak kecil orang tua saya sering bertanya, Cita-citamu apa nak? begitupun di sekolah, tidak ada hari dimana tidak menceritakan cita-cita. Saya ingat ketika SD (Sekolah Dasar), Ketika sesi pengenalan berkhir, Guru akan bertanya "Apa Cita-citamu?" Saya hanya terdiam, tidak bersuara dan tidak menjawab. berbeda dengan teman-teman lainnya, Mereka dengan lantangnya menjawab: Aku ingin jadi Dokter. Guru. Polisi. tentara. Presenter. Artis. Begitulah cita-cita para teman-teman yang berhasil aku tangkap. Mereka mempunyai cita-cita, dan impian. Lalu apa Cita-cita saya? Tidak ada. Saya selalu bingung untuk memikirkannya. Bisa dibilang saya adalah manusia tanpa Cita-cita.
Hingga sampai sekarang saya tidak punya cita-cita, meski banyak orang selalu berpendapat, "Manusia itu harus memiliki cita-cita. Manusia tanpa cita-cita, bagaikan jiwa tanpa raga." Saya tidak peduli dengan semua itu. Biarkanlah saya hidup hanya dengan jiwa, dari pada harus mengejar sesuatu yang tidak sesuai dengan Passion saya.
Meski saya tidak punya Cita-cita, bukan berarti saya tidak punya tujuan hidup. Saya memiliki tujuan hidup, sama dengan orang yang memiliki cita-cita. Namun, tujuan hidup saya berakar pada Passion. Yah betul, Passion! Pleasure, Meaning, Emoction, Ketiga hal itulah yang harus ada dalam diri saya, sebelum memilih sesuatu hal yang akan saya impikan, atau kerjakan. Saya tidak ingin hidup dalam kebohongan, hidup dalam apa yang sebenarnya tidak saya sukai dan cintai. Menurut saya, hidup dalam apa yang tidak di sukai dan cintai, sama saja hidup dalam kepalsuan, dan itu akan membunuhmu secara perlahan.
Katakanlah begini: Ada seorang anak dipaksa oleh orang tuannya untuk menjadi dokter, Namun dia tidak memiliki passion di situ. Sang anak terus dipaksa, bahkan telah di daftarkan di perguruan tinggi, Jurusan Kedokteran. Sang anak pun menurutinya, dia tidak ingin mengecewakn orang tuanya, meski sang anak sama sekali tidak ingin menjadi dokter. Sang anak pun hidup dalam kepalsuan, tanpa gairah, dan tanpa kenikmatan. Passion sang anak itu telah dikubur dalam-dalam. Dan pada akhirnya, dia gagal! Dia telah membohongi dirinya sendiri, demi untuk tidak mengecewakan orang tuanya. Dia telah membunuh Passion-nya sendiri. Namun jika sang anak itu tidak mengikuti keinginan orang tuanya, dan malah mengikuti keinginannya sendiri sesuai dengan passion-nya, mungkin sang anak itu akan sukses, dan akan hidup dalam kebahagian yang mendalam.
Jadi, sebelum memilih tujuan hidup, ada baiknya untuk melihat Passion pada diri anda. Apa Passion anda, dan apa yang cocok bagi anda..
No comments:
Post a Comment