Sunday, 17 April 2016

Manusia Yang Pikirannya Masih Primitif



 
Sumber Foto: Google
                    
Tak sepatutnya, manusia menganggap dirinya selalu benar dari yang lain. Merasa sempurna dari manusia lain, hingga menganggap manusia lain sebagai suatu objek yang bisa selalu disalahkan. Ataupun, tak begitu baik pula, mengesampingkan ego dan menutup nalar demi suatu ketidakbenaran. Ciri-ciri orang Primitif.

Harusnya di era dimana zaman sudah semakin maju, pikiran-pikiran Primitif haruslah ditinggalkan dan dihapus dari dasar pikiran paling dangkal sekalipun. Bukankah pendidikan mengajarkan itu semua, membaharui segala pikiran, hingga kearah yang majemuk. Jika seorang tidak ingin meninggalkan Otak Primitifnya, sudah seharusnya ia tak usah berpendidikan. Karna sia-sia sudah ilmu pengatahuan yang selama ini ia pelajari. 

Saya tak pernah suka dengan orang-orang yang hidup dengan Formalitas belaka. Mengaku terpelajar, namun tak bisa membedakan mana benar dan mana salah. Ataupun mengaku sebagai seorang fisikawan genius, tapi tak bisa menjelaskan teori Albert Enstein satu-pun. Bukankah itu bodoh. Tapi agaknya, manusia seperti itu tak akan merasa bodoh, karna sudah jelas kalau otak mereka menutup nalar.
Maka janganlah mengajak orang-orang seperti itu untuk berdebat, bukan perdamaian yang akan anda dapatkan, tapi sebuah kebencian. Karna seperti yang saya utarakan tadi, mereka menganggap dirinya selalu benar dan anda selalu salah. Jadi tidak heran, jika mereka kalah, jalan terakhir mereka adalah menciptakan suasana panas, dan menyulut perkelahian. Karna mereka adalah tipikal seperti itu.

Anomali Kebencian juga patut untuk dihilangkan, dari dasar yang paling dangkal, dimana itu terletak. Karna seorang yang terpelajar, sudah seharusnya meninggalkan kebencian tanpa dasar apapun.

Namun yang tak kalah buruk dari orang-orang seperti itu, ialah orang yang ikut-ikutan dari masalah yang tak pernah ia ketahui sama sekali. Teramat sangat saya sangat tidak suka orang seperti itu. Bukankah manusia diciptakan Berotak, harusnya tahu mana kebenaran dan mana ketidakbenaran. Saya jadi ingat kata-kata Pram di bukunya, “Harus adil sudah sejak dalam pikiran, jangan ikut-ikutan jadi hakim tentang perkara yang tidak diketahui benar tidaknya.”

Harusnya jika merasa terpelajar dan berpendidikan, sudah semestinya tahu batasan-batasan. Bukan berarti menjadi seorang penghakim karna merasa derajatnya lebih tinggi, dan karna memiliki pergaulan yang luas bukan berarti merasa sok paling berkuasa. Terlalu banyak ngoceh di media sosial, merasa paling hebat dan jagoan, dan sering membanggakan kebodohannya sendiri, termasuk manusia yang sebenarnya pengecut dan penakut. Manusia seperti itu, Cuma ingin diperhatikan, karna kurangnya perhatian. Dan juga termasuk orang-orang yang tak dewasa..

Saya kira kuliah mampu merubah pandangan primitif itu, ternyata tidak sama sekali. Lalu siapa yang berhak merubahnya? Diri sendiri. Ya, saya rasa diri sendiri yang berhak merubah Pandangan dan pikiran primitif itu.

Tulisan ini saya tulis untuk orang-orang yang masih mengaggungkan pikiran Primitif, dan tak pernah mau untuk merubah pikiran itu menjadi lebih modern.

No comments:

Post a Comment