Sumber Foto: Google
Tak sepatutnya, manusia menganggap dirinya selalu benar dari yang
lain. Merasa sempurna dari manusia lain, hingga menganggap manusia lain sebagai
suatu objek yang bisa selalu disalahkan. Ataupun, tak begitu baik pula,
mengesampingkan ego dan menutup nalar demi suatu ketidakbenaran. Ciri-ciri
orang Primitif.
Harusnya di era dimana zaman sudah semakin maju, pikiran-pikiran
Primitif haruslah ditinggalkan dan dihapus dari dasar pikiran paling dangkal
sekalipun. Bukankah pendidikan mengajarkan itu semua, membaharui segala
pikiran, hingga kearah yang majemuk. Jika seorang tidak ingin meninggalkan Otak
Primitifnya, sudah seharusnya ia tak usah berpendidikan. Karna sia-sia sudah
ilmu pengatahuan yang selama ini ia pelajari.
Saya tak pernah suka dengan orang-orang yang hidup dengan Formalitas
belaka. Mengaku terpelajar, namun tak bisa membedakan mana benar dan mana salah.
Ataupun mengaku sebagai seorang fisikawan genius, tapi tak bisa menjelaskan
teori Albert Enstein satu-pun. Bukankah itu bodoh. Tapi agaknya, manusia
seperti itu tak akan merasa bodoh, karna sudah jelas kalau otak mereka menutup
nalar.
Maka janganlah mengajak orang-orang seperti itu untuk berdebat,
bukan perdamaian yang akan anda dapatkan, tapi sebuah kebencian. Karna seperti
yang saya utarakan tadi, mereka menganggap dirinya selalu benar dan anda selalu
salah. Jadi tidak heran, jika mereka kalah, jalan terakhir mereka adalah
menciptakan suasana panas, dan menyulut perkelahian. Karna mereka adalah
tipikal seperti itu.
Anomali Kebencian juga patut untuk dihilangkan, dari dasar yang
paling dangkal, dimana itu terletak. Karna seorang yang terpelajar, sudah
seharusnya meninggalkan kebencian tanpa dasar apapun.
Namun yang tak kalah buruk dari orang-orang seperti itu, ialah orang
yang ikut-ikutan dari masalah yang tak pernah ia ketahui sama sekali. Teramat
sangat saya sangat tidak suka orang seperti itu. Bukankah manusia diciptakan
Berotak, harusnya tahu mana kebenaran dan mana ketidakbenaran. Saya jadi ingat
kata-kata Pram di bukunya, “Harus adil sudah sejak dalam pikiran, jangan
ikut-ikutan jadi hakim tentang perkara yang tidak diketahui benar tidaknya.”
Harusnya jika merasa terpelajar dan berpendidikan, sudah semestinya
tahu batasan-batasan. Bukan berarti menjadi seorang penghakim karna merasa
derajatnya lebih tinggi, dan karna memiliki pergaulan yang luas bukan berarti
merasa sok paling berkuasa. Terlalu banyak ngoceh di media sosial, merasa
paling hebat dan jagoan, dan sering membanggakan kebodohannya sendiri, termasuk
manusia yang sebenarnya pengecut dan penakut. Manusia seperti itu, Cuma ingin
diperhatikan, karna kurangnya perhatian. Dan juga termasuk orang-orang yang tak
dewasa..
Saya kira kuliah mampu merubah pandangan primitif itu, ternyata
tidak sama sekali. Lalu siapa yang berhak merubahnya? Diri sendiri. Ya, saya
rasa diri sendiri yang berhak merubah Pandangan dan pikiran primitif itu.
Tulisan ini saya tulis untuk orang-orang yang masih mengaggungkan pikiran Primitif, dan tak pernah mau untuk merubah pikiran itu menjadi lebih modern.
No comments:
Post a Comment