Friday, 13 November 2015

She


Aku mengenal wanita itu, dan kurasa dia-pun mengenalku. Sudah sangat lama aku mengenalnya, dan dari lamanya itulah aku jadi mengenal dirinya lebih dalam lagi. Kini, apa yang dia suka, dan apa yang dia tidak suka? Sudah bukan lagi masalah buatku. Karna, aku sudah tahu segala tentangnya...
Dia munyukai musik klasik. Yang kutahu, dia adalah penggemar the beattles yang sangat loyal. Semua albumnya, telah dia miliki sepenuhnya. Bahkan dia pernah memperkenalkan poster dan lukisan the beatles yang dia miliki. Dan juga, dia yang memperkanalkanku pertama kali dengan Let It Be. Sebuah lagu yang begitu sangat indah menurutku..
“Musik klasik itu lebih punya nyawa.” Katanya padaku.
“Apa bedanya dengan musik-musik lain. Mereka juga punya nyawa..” tanyaku ketika itu.  
Dia tersenyum kecil padaku, seakan pertanyaanku sudah sangat dia nanti-nantikan.
“Tetapi Musik klasik itu lebih hidup dan punya jiwa.” Jawabnya.. “Dan yang harus kamu tahu, musik klasik itu adalah musik yang mengerti aku.” Sambungnya.
Dia selalu menjadi pemenang ketika berdebat mengenai musik denganku. Alasanya, dia adalah pencerita yang hebat. Aku selalu takjub dengan jawaban-jawabannya. Semua penjelasannya, sering membuatku terpana dan terdiam.
******
Saranku, jangan pernah berbicara mengenai buku dengannya, jika kamu masih belum mengerti sepenuhnya.
Aku pernah di permalukan olehnya, ketika berbicara mengenai sebuah buku, Da Vinci Code. Buku karya Dan Brown ini sukses membuatku terlihat bodoh di hadapannya. Mengapa? karna dia menjelaskan segala detail kecil yang bahkan luput dari mataku. Dia menguak segala misteri-misteri yang ada di dalam buku itu, bahkan dia menyampaikan apa yang menjadi tujuan dan brown mengenai Da Vinci Code, yang bahkan aku tidak tahu sama sekali. Dia mengetahui Da Vinci Code luar dalam, seakan dia adalah penulisnya.
Ketika itu, aku seperti anak kelas 1 SD yang sedang diajari membaca dan berhitung. 
*****
Namun ternyata tak ada yang special dari makanan favoritnya. Dia menyukai makanan-makanan sederhana. Dan selama aku mengenalnya, aku baru pertama kali tahu bahwa ternyata dia menyukai petai. Dia tak seperti wanita-wanita lain yang suka datang di restourant dan memesan makanan yang berharga ratusan ribu bahkan jutaan. Meski ku tahu dia sangat bisa melakukannya.  Dia selalu senang jika kuajak makan di warung pinggiran, Lebih sosial katanya.
Kukira segala detail dan teliti dalam hidupnya hanya ada dalam Muski dan Bukunya. Ternyata tidak. Dalam sebuah makanan pun dia sangat detail dan teliti dalam memilih. Aku masih ingat bagaimana dia mempermalukanku..
“Mbak, saya tidak suka dengan Kwitiaw ini. Sangat tidak enak.” keluhnya kepada seorang pelayan di depannya.
“Maksudnya?” tanya pelayan wanita.
“Ya, ini adalah kwetiaw yang paling tidak enak yang saya makan..” jawabnya. “Mienya terlalu basah dan bumbunya tidak begitu ada rasa. Saya sangat kecewa!”
Seluruh orang yang berada di rumah makan itu menatap kami berdua. Ketika itu, aku merasa sebagai orang asing yang berada dalam lingkungan yang berbeda. Mereka bahkan tak Cuma menatap, tetapi ikut mendengarkan perdebatan itu.
“Ada apa ini?” tanya seorang lelaki yang kira-kira berumur 40 tahun ke atas.
Lelaki itu berjalan ke arah meja kami. Lelaki itu kembali bertanya, tetapi bukan kepada kami berdua. Dia bertanya kepada pelayan di sampingnya, Dan si pelayan itu pun menjelaskan secara perlahan..
“Saya yang punya rumah makan ini.. dan selama ini juga belum ada yang komplain mengenai Kwetiaw kami.” Katanya, dengan wajah yang sangat ramah.
Matanya tak berhenti memandang kami, Ia seperti sedang menganalisa. Lalu, dia berkata lagi:
“Kalian tidak usah bayar makanan ini. Dan jika sudah selesai makan, silahkan untuk pergi..”
Dan kami pun keluar dari rumah makan itu..
Ternyata, ia juga pengkritik yang handal.

No comments:

Post a Comment