Sunday, 31 January 2016

Mengenai Sebulan Ini

                            
               
Sudah hampir sebulan ini saya tak lagi menulis, tak lagi berpikir, dan tak lagi duduk di depan sebuah laptop, seperti yang biasanya saya lakukan ketika hendak menulis. Gairah menulis saya tiba-tiba pudar, lenyap, dan hilang begitu saja. Selain gairah, otak adalah hal yang paling berperan dalam ketidakmauan saya menulis. Ide yang tak kunjung datang, juga menjadi alasan mengapa saya tak menulis. Padahal, sebagai penulis sangat dituntut untuk menemukan ide, bukan hanya sekedar menunggu ide datang.

Dan ternyata tak hanya menulis yang hilang dalam sebulan ini. Membaca buku tiba-tiba tak lagi saya lakukan. Dalam sebulan sebelumnya, biasanya kurang lebih dalam seminggu saya bisa menghabiskan dua judul buku ataupun tiga judul buku. Namun di bulan berjalan ini, eksistensi saya dalam membaca tiba-tiba merosot dalam waktu yang bersamaan (Menulis). Hampir sebulan ini, tak ada satu judul bukupun yang saya baca.

Setiap kali saya berusaha menulis atau membaca, setiap itu juga saya merasa sangat berat. Seperti apa yang saya lakukan adalah suatu kegiatan yang asing untuk saya lakukan. Tak jarang saya mengeluh, bahwa saya tak memiliki bakat apapun dalam dunia Tulis-Menulis. Ya, saya sering mengeluh atau berbicara sendiri, ketika saya tidak bisa melakukan apa-apa. Rasanya itu umum dan wajar untuk semua orang. Namun seperti sifat manusia yang selalu ingin tahu, Sayapun mencari informasi dengan browsing mengenai apa yang sedang saya alami. Dan hasilnya, sangat menggembirakan bagi saya. Banyak sekali artikel dan tulisan-tulisan essai yang membahas hal semacam ini, Bahkan ada cara bagaiamana keluar dari Kebuntuan dalam hal menulis (Writter Block).  Setidaknya bukan hanya saya yang mengalami kebuntuan dalam menulis. Nyatanya, semua penulis pernah merasakan atau berada di posisi seperti saya-buntu adalah hal yang wajar yang semua penulis akan alami. Tentunya tinggal bagaiamana kita, ingin keluar atau tetap bertahan.

Cukup lama saya menyelam dalam artikel-artikel itu. Kiranya, sudah berjam-jam lebih mata saya bergulat dengan rangkaian kata tersebut. Entah kenapa, saya adalah orang yang untuk memahami tulisan atau suatu materi itu dibutuhkan pengulangan. Artinya, untuk memahami saya membutuhkan waktu lebih lama dari orang lain. Mungkin bisa dibilang, otak saya lambat dalam bekerja.

Setelah kelar membaca beberapa artikel seputar Wtitter Block, saya tidak langsung bisa mengatasinya. Jadi yang saya lakukan ketika itu, berbaring dikamar dan mulai tidur.  


             “Semua penulis memiliki caranya sendiri dalam mengatasi Writter Block.”

                                                                 Dan saya


              “Sedang menciptakan cara saya sendiri dalam mengatasi writter Block.”

7 comments:

  1. Wah pernah nih gue males nulis. Bawaannya gaaa mau ngapa-ngapain. Tapi setelah negara api menyerang gue harus bertahan. Hrs nulis...biar ga setres.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya bener. Gue setuju, kadang kita perlu nulis biar gak stres :D

      Delete
  2. Gue gue biasanya males nulis, saat kehidupan lagi "biasa aja". Berasa gak ada momen menarik aja buat diabadikan. Asik

    ReplyDelete
  3. Baru-baru ini aku juga ngerasain hal yang sama, kadang disaat lagi pengen nulis malah gak ada ide jadinya males, kadang sebaliknya.--"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya semua penulis merasakan atau setidaknya pernah berada di posisi seperti itu :)

      Delete