Alexa akan sangat membenciku jika ia tahu akulah penyebab Mr. Hudson
tewas. Aku tak pernah bisa melupakan kejadian itu, saat dimana Mr. Hudson tewas
ditanganku sendiri. Dan seringkali bayangan alexa terbayang-bayang. Aku takut
dia akan membenciku dan menjauhiku, ketika dia tahu akulah sosok dibalik
kematian ayahnya. Karna bukan perkara mudah sebagai manusia untuk melupakan sesuatu
hal buruk yang pernah dilakukannya. Membunuh Mr. hudson tak pernah terlintas
dipikiranku. Entah kenapa aku bisa sekeji itu.
Ketika alexa tahu bahwa Mr. Hudson telah tewas, ia begitu sangat sedih
dan berteriak sejadi-jadinya. Tak peduli siapa disekitarnya, atau memang ia tak
menghiraukannya. Namun ada yang aneh, aku tak melihat wajah sedih Bill hari itu.
Ia malah tersenyum kecil ketika alexa berteriak kesetannan di depan mayat
ayahnya. Apa iya sudah tak peduli dengan ayahnya sendiri..
“Seorang telah menunggu anda..” Kata seorang dokter lelaki dengan
perawakan gendut dan sedikit berkumis. Sekilas ku tahu namanya Dr. Jonathan,
dari papan nama kecil yang menggantung di baju dokter itu.
“Siapa?” Tanyaku bingung.
“Mereka bilang, mereka dari kepolisian..” Jawabnya.
Aku diam beribu bahasa. Aku tahu bahwa mereka meminta keteranganku
mengenai mr hudson. Entah aku harus memberi keterangan macam apa, haruskah ku
jujur bahwa aku yang telah membunuh mr hudson. Namun aku tak berniat berkata
jujur, semua keterangan yang kusampaikan murni kebohonganku semata.
Para polisi itu sekilas tidak seperti polisi. Maksudku, mereka sama
sekali tidak memakai baju resminya. kulihat mereka hanya memakai baju biasa,
dengan tambahan jaket jeans saja. Aku menolak ketika mereka meminta keteranganku.
Namun ketika seorang dari mereka menunjukan lencana polisinya, aku kemudiaan
mengindahkan permintaannya.
Polisi itu banyak bertanya kepadaku. Mula-mula dimana aku berada
ketika malam Mr. hudson tewas, kedekatan aku dengannya, hubungan aku dengan
keluarga mr hudson. kapan aku mengenal keluarga mr hudson. Dan bahkan yang
sangat sentimentil sekalipun mereka pertanyakan, bagaimana hubunganku dengan
alexa. Dan pertanyaan lainnya.. Aku menjawab semuanya, tak terlewati satu
pertanyaan pun. Dan kurasa mereka tak curiga sedikitpun.
Esoknya koran minggu pagi memberitakan mengenai tewasnya mr hudson
dengan sangat dramatis. Tengkorak kepala yang retak, dan tiga tikaman
berulang-ulang di pinggang. Artikel itu menjadi headline di koran pagi itu. Aku
diam memandang artikel itu, tubuhku dingin, sekali-kali berkeringat. Tiba-tiba
handphoneku berdering nyaring..
Belum kubicara sepatah katapun, seorang di balik telepon itu berkata,
“Apakah ini Tuan Andrea? Tanyanya.
“Ya.” Jawabku.
“Saya dari kepolisan, yang kemarin malam meminta keterangan sodara
di rumah sakit. Kami dari kepolisian membutuhkan keterangan lebih lanjut dari
sodara. Karna keterangan yang sodara sampaikan belum begitu lengkap. Mohon
waktunya untuk lusa bisa datang di kantor kami.. terimakasih.” Kemudian terputus.
Aku bingung hari itu. Entah alibi apa lagi yang harus kepergunakan
untuk mengecoh mereka. Pikiranku kosong, dan aku takut sekali. Malam tadi aku
tak tidur, Seringkali aku cemas, kadang aku menangis sendiri. Sejak pembunuhan
mr hudson, aku jadi sering melamun.
Dua hari setelah kematian mr hudson, alexa menemuiku di flat tempat
tinggalku. Ia membawa makanan kesukaanku, dan beberapa obat. Kutatap ia tanpa
henti, mengapa ia bisa setegar ini. Maksudku, ia baru saja kehilangan orang
yang paling berarti dalam hidupnya. Ia tak seperti ketika kutemui di ruang mayat
itu. kini ia lebih tenang, senyum manisnya kadang menyembul di balik bibirnya
yang merah, meski mata bengkaknya tidak bisa menyembunyikan apapun.
“Besok ayah akan
dimakamkan..” katanya padaku. “Kuharap kamu bisa datang”
Aku lalu menatap mata bulatnya lekat-lekat, sedikit bengkak, tapi
tak apa, sama sekali tidak memudarkan wajah cantiknya.
“Aku pasti datang sayang.” Ucapku sambil tersenyum padanya.
Ia membalas senyumku, kemudian menangis. Lalu aku memeluknya.
“Ayah adalah orang yang baik, mengapa ada orang yang setega itu
membunuhnya..” ia berbicara tepat dikupingku. “Aku tak punya siapa-siapa lagi
di dunia ini selain kamu.” Lanjutnya.
“Kan kamu masih punya bill?” Kataku.
Dia terdiam, kemudian melepaskan pelukannya, menyeka air matanya,
dan menatapku dalam, seraya berkata “Aku sangat mengharapkanmu untuk datang.”
Setelah itu, ia pergi menghilang dari kedua mataku.
Besoknya aku datang ke pemakaman mr hudson, alexa ternyata telah
menungguku. Kurang lebih ada tiga puluh orang yang juga sedang berada di
pemakaman mr hudson. Dari tiga puluh orang itu, aku bisa menyimpulkan bahwa mereka
adalah kerabat dekat, teman kantor, dan teman-teman masa kuliahnya. Ada juga
seorang polisi yang pernah meminta keteranganku. Namun anehnya, aku tak melihat
bill. Kemana dia?
Prosesi pemakaman itu berjalan lancar, kulihat alexa begitu tegar,
ia tak bersedih sedikitpun. Ia terus menggenggam tanganku, tanpa pernah
sekalipun di lepasnya. Seorang polisi yang kukatakan tadi, menghampiri kami
berdua. Dan ia berkata,
“Saya sangat turut berduka atas kepergian mr hudson. Bagaimanapun ia
sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri. Saya janji akan menangkap pelaku
pembunuhan itu.” Katanya kepada alexa.
“Saya percaya kepadamu, Robert.” Kata alexa penuh senyum.
Polisi itu membalas senyum alexa.
“Kau wanita yang kuat.” Katanya. Kemudian ia pergi meninggalkan kami
berdua.
Setelah kepergian polisi itu. Satu persatu orang yang berada di
pemakaman itu, mendatangi alexa. Mereka mengaku turut bersedih atas kematian
Mr. Hudson. Dan mengutkan alexa agar tetap tegar seperti sediakala.
Malamnya, Aku tidak bisa
tidur kembali. Pikiranku dipenuhi rasa bersalah. Wajah mr. Hudson mengahantuiku
setiap kali ku membayangakan alexa. Setiap saat, aku dihantui akan kesalahanku
sendiri. Sejujurnya, aku sangat menyesali perbuatanku. Ada Tiga panggilan masuk
malam itu. Namun aku tak mempedulikannya.
Pagi-pagi sekali suara ketukan pintu membangunkan tidurku. Aku tak
tahu di balik pintu itu siapa. Jikalau alexa ia akan memberikan kabar terlebih
dahulu sembelum datang ke Flatku. Dan sudah pasti itu bukan alexa. Ternyata
dugaanku benar, dibalik pintu itu berdiri robert seorang.
“Selamat pagi Mr. Andrea apa kedatangan saya mengganggu anda.”
tanyanya padaku. Belum sempatku menjawab, Ia berkata kembali “Kedatangan saya
kemari ingin memastikan bahwa anda tidak apa-apa.”
“Maksudnya?” Tanyaku bingung.
“Sebelum saya jelaskan, bolehkah saya masuk, agar pembicaraan ini
lebih nyaman tentunya.”
“tentu. Silahkan..” Ucapku.
Kubawa ia masuk kerumahku, “Bolehkah...” ujarnya.
“Yah silahkan. Duduklah..”
Setelah ia duduk beberapa saat, ia langsung menyergapku dengan
pertanyaan.
“Mengapa anda tidak datang ke kantor kami?” Tanyanya.
“Hmmm Aku kurang sehat.” Jawabku.
“Benarkah... Kukira anda sehat-sehat saja, ketika berada di
pemakaman mr hudson.” Ujarnya.
“Entahlah, sepulang dari pemakaman itu, tubuhku jadi tidak enak. Kau
tahu kan, musim ini musim yang buruk.”
“Yah benar, Saya setuju. Musim ini sangat tidak bisa diprediksi,
kadang hujan, kadang panas terik. Seperti halnya manusia juga, sangat sulit
untuk diprediksi.” Katanya.
“Apakah tadi malam anda menangis?” Tanyanya.
“Maksud anda?”
“Terlihat dari mata anda yang merah dan bengkak.”
“Tidak, ini hanya kemasukan debu..” Belaku.
Tiba-tiba dia terdiam, menatapku dengan tajam.
“Saya tahu anda sedang berbohong..” ujarnya.
“Aku tidak berbohong. Benar, ini kemasukan debu.” Terangku.
“Mr. Andrea, sudahilah kepura-puraan ini.”
Aku diam sesaat. Darahku seperti berhenti mengalir, Ketika ia
berbicara seperti itu.
Kemudin ia berbicara kembali, “Aktingmu cukup bagus, bisa mengelabui
rekan-rekanku. Rekanku semua percaya pada keteranganmu ketika dirumah sakit
itu. Tapi kau tidak bisa mengelabuiku. Saya berada dua langkah di depanmu. Saya
tahu banyak tentang dirimu, dari mr hudson. Dan mungkin kau bingung, mengapa
bill tak datang di pemakaman ayahnya sendiri? Karna saya memintanya untuk tak
datang. Saya meminta keterangannya, dan kau tahu.. Ia banyak cerita tentang
dirimu.”
“Baiklah, akan kujelaskan dugaan saya mengapa saya sangat percaya
anda adalaah pembunuh mr hudson. Pertama: Ketika saya meminta keterangan, anda
memberikan keterangan palsu. Kedua: Saya tahu dari bill, jika hubunganmu dengan
alexa sangat rumit. Mr hudson, tidak merestui hubungan kalian bukan. Ketiga:
Sikapmu berubah ketika pembunuhan mr hudson, kau sering cemas, dan ketakutan. Dan
itulah perasaan yang akan selalu di dapatkan oleh seorang pembunuh. Keempat: mr
hudson sangat tidak menyukaimu, itu keluar dari mulutnya sendiri. Jadi kau
membunuh mr hudson, agar kau bisa menikahi alexa. Karna sejujurnya, Mr. Hudson
tidak merestui hubungan kalian.
“Sebenarnya dugaanku ini sangat lemah dan belum bisa menyeretmu ke
dalam penjara. Tetapi mengapa saya sangat seberani ini.. karna matamu. Matamu
banyak berbicara lain kepadaku.”
“Akhirnya...”
“Kau mau mengakuinya di depan publik?”
“Tentu.”
***
Besoknya, sebuah koran ternama memberitakan mengenai tewasnya polisi
muda di sebuah selokan kota, dengan luka yang hampir persis seperti Mr. Hudson.

kece
ReplyDelete