Friday, 6 May 2016

Jebakan

                     

Alexa akan sangat membenciku jika ia tahu akulah penyebab Mr. Hudson tewas. Aku tak pernah bisa melupakan kejadian itu, saat dimana Mr. Hudson tewas ditanganku sendiri. Dan seringkali bayangan alexa terbayang-bayang. Aku takut dia akan membenciku dan menjauhiku, ketika dia tahu akulah sosok dibalik kematian ayahnya. Karna bukan perkara mudah sebagai manusia untuk melupakan sesuatu hal buruk yang pernah dilakukannya. Membunuh Mr. hudson tak pernah terlintas dipikiranku. Entah kenapa aku bisa sekeji itu. 

Ketika alexa tahu bahwa Mr. Hudson telah tewas, ia begitu sangat sedih dan berteriak sejadi-jadinya. Tak peduli siapa disekitarnya, atau memang ia tak menghiraukannya. Namun ada yang aneh, aku tak melihat wajah sedih Bill hari itu. Ia malah tersenyum kecil ketika alexa berteriak kesetannan di depan mayat ayahnya. Apa iya sudah tak peduli dengan ayahnya sendiri..

“Seorang telah menunggu anda..” Kata seorang dokter lelaki dengan perawakan gendut dan sedikit berkumis. Sekilas ku tahu namanya Dr. Jonathan, dari papan nama kecil yang menggantung di baju dokter itu.

“Siapa?” Tanyaku bingung.

“Mereka bilang, mereka dari kepolisian..” Jawabnya.

Aku diam beribu bahasa. Aku tahu bahwa mereka meminta keteranganku mengenai mr hudson. Entah aku harus memberi keterangan macam apa, haruskah ku jujur bahwa aku yang telah membunuh mr hudson. Namun aku tak berniat berkata jujur, semua keterangan yang kusampaikan murni kebohonganku semata.

Para polisi itu sekilas tidak seperti polisi. Maksudku, mereka sama sekali tidak memakai baju resminya. kulihat mereka hanya memakai baju biasa, dengan tambahan jaket jeans saja. Aku menolak ketika mereka meminta keteranganku. Namun ketika seorang dari mereka menunjukan lencana polisinya, aku kemudiaan mengindahkan permintaannya.

Polisi itu banyak bertanya kepadaku. Mula-mula dimana aku berada ketika malam Mr. hudson tewas, kedekatan aku dengannya, hubungan aku dengan keluarga mr hudson. kapan aku mengenal keluarga mr hudson. Dan bahkan yang sangat sentimentil sekalipun mereka pertanyakan, bagaimana hubunganku dengan alexa. Dan pertanyaan lainnya.. Aku menjawab semuanya, tak terlewati satu pertanyaan pun. Dan kurasa mereka tak curiga sedikitpun.

Esoknya koran minggu pagi memberitakan mengenai tewasnya mr hudson dengan sangat dramatis. Tengkorak kepala yang retak, dan tiga tikaman berulang-ulang di pinggang. Artikel itu menjadi headline di koran pagi itu. Aku diam memandang artikel itu, tubuhku dingin, sekali-kali berkeringat. Tiba-tiba handphoneku berdering nyaring..

Belum kubicara sepatah katapun, seorang di balik telepon itu berkata, “Apakah ini Tuan Andrea? Tanyanya.

“Ya.” Jawabku.

“Saya dari kepolisan, yang kemarin malam meminta keterangan sodara di rumah sakit. Kami dari kepolisian membutuhkan keterangan lebih lanjut dari sodara. Karna keterangan yang sodara sampaikan belum begitu lengkap. Mohon waktunya untuk lusa bisa datang di kantor kami.. terimakasih.” Kemudian terputus.

Aku bingung hari itu. Entah alibi apa lagi yang harus kepergunakan untuk mengecoh mereka. Pikiranku kosong, dan aku takut sekali. Malam tadi aku tak tidur, Seringkali aku cemas, kadang aku menangis sendiri. Sejak pembunuhan mr hudson, aku jadi sering melamun.

Dua hari setelah kematian mr hudson, alexa menemuiku di flat tempat tinggalku. Ia membawa makanan kesukaanku, dan beberapa obat. Kutatap ia tanpa henti, mengapa ia bisa setegar ini. Maksudku, ia baru saja kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya. Ia tak seperti ketika kutemui di ruang mayat itu. kini ia lebih tenang, senyum manisnya kadang menyembul di balik bibirnya yang merah, meski mata bengkaknya tidak bisa menyembunyikan apapun.

 “Besok ayah akan dimakamkan..” katanya padaku. “Kuharap kamu bisa datang”

Aku lalu menatap mata bulatnya lekat-lekat, sedikit bengkak, tapi tak apa, sama sekali tidak memudarkan wajah cantiknya.

“Aku pasti datang sayang.” Ucapku sambil tersenyum padanya.

Ia membalas senyumku, kemudian menangis. Lalu aku memeluknya.

“Ayah adalah orang yang baik, mengapa ada orang yang setega itu membunuhnya..” ia berbicara tepat dikupingku. “Aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kamu.” Lanjutnya.

“Kan kamu masih punya bill?” Kataku.

Dia terdiam, kemudian melepaskan pelukannya, menyeka air matanya, dan menatapku dalam, seraya berkata “Aku sangat mengharapkanmu untuk datang.” Setelah itu, ia pergi menghilang dari kedua mataku.

Besoknya aku datang ke pemakaman mr hudson, alexa ternyata telah menungguku. Kurang lebih ada tiga puluh orang yang juga sedang berada di pemakaman mr hudson. Dari tiga puluh orang itu, aku bisa menyimpulkan bahwa mereka adalah kerabat dekat, teman kantor, dan teman-teman masa kuliahnya. Ada juga seorang polisi yang pernah meminta keteranganku. Namun anehnya, aku tak melihat bill. Kemana dia?

Prosesi pemakaman itu berjalan lancar, kulihat alexa begitu tegar, ia tak bersedih sedikitpun. Ia terus menggenggam tanganku, tanpa pernah sekalipun di lepasnya. Seorang polisi yang kukatakan tadi, menghampiri kami berdua. Dan ia berkata,

“Saya sangat turut berduka atas kepergian mr hudson. Bagaimanapun ia sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri. Saya janji akan menangkap pelaku pembunuhan itu.” Katanya kepada alexa.

“Saya percaya kepadamu, Robert.” Kata alexa penuh senyum.

Polisi itu membalas senyum alexa.

“Kau wanita yang kuat.” Katanya. Kemudian ia pergi meninggalkan kami berdua.

Setelah kepergian polisi itu. Satu persatu orang yang berada di pemakaman itu, mendatangi alexa. Mereka mengaku turut bersedih atas kematian Mr. Hudson. Dan mengutkan alexa agar tetap tegar seperti sediakala.

Malamnya, Aku tidak bisa tidur kembali. Pikiranku dipenuhi rasa bersalah. Wajah mr. Hudson mengahantuiku setiap kali ku membayangakan alexa. Setiap saat, aku dihantui akan kesalahanku sendiri. Sejujurnya, aku sangat menyesali perbuatanku. Ada Tiga panggilan masuk malam itu. Namun aku tak mempedulikannya.

Pagi-pagi sekali suara ketukan pintu membangunkan tidurku. Aku tak tahu di balik pintu itu siapa. Jikalau alexa ia akan memberikan kabar terlebih dahulu sembelum datang ke Flatku. Dan sudah pasti itu bukan alexa. Ternyata dugaanku benar, dibalik pintu itu berdiri robert seorang.

“Selamat pagi Mr. Andrea apa kedatangan saya mengganggu anda.” tanyanya padaku. Belum sempatku menjawab, Ia berkata kembali “Kedatangan saya kemari ingin memastikan bahwa anda tidak apa-apa.”

“Maksudnya?” Tanyaku bingung.

“Sebelum saya jelaskan, bolehkah saya masuk, agar pembicaraan ini lebih nyaman tentunya.”

“tentu. Silahkan..” Ucapku.

Kubawa ia masuk kerumahku, “Bolehkah...” ujarnya.

“Yah silahkan. Duduklah..”

Setelah ia duduk beberapa saat, ia langsung menyergapku dengan pertanyaan.

“Mengapa anda tidak datang ke kantor kami?” Tanyanya.

“Hmmm Aku kurang sehat.” Jawabku.

“Benarkah... Kukira anda sehat-sehat saja, ketika berada di pemakaman mr hudson.” Ujarnya.

“Entahlah, sepulang dari pemakaman itu, tubuhku jadi tidak enak. Kau tahu kan, musim ini musim yang buruk.”

“Yah benar, Saya setuju. Musim ini sangat tidak bisa diprediksi, kadang hujan, kadang panas terik. Seperti halnya manusia juga, sangat sulit untuk diprediksi.” Katanya.

“Apakah tadi malam anda menangis?” Tanyanya.

“Maksud anda?” 

“Terlihat dari mata anda yang merah dan bengkak.”

“Tidak, ini hanya kemasukan debu..” Belaku.

Tiba-tiba dia terdiam, menatapku dengan tajam.

“Saya tahu anda sedang berbohong..” ujarnya.

“Aku tidak berbohong. Benar, ini kemasukan debu.” Terangku.

“Mr. Andrea, sudahilah kepura-puraan ini.”

Aku diam sesaat. Darahku seperti berhenti mengalir, Ketika ia berbicara seperti itu.


Kemudin ia berbicara kembali, “Aktingmu cukup bagus, bisa mengelabui rekan-rekanku. Rekanku semua percaya pada keteranganmu ketika dirumah sakit itu. Tapi kau tidak bisa mengelabuiku. Saya berada dua langkah di depanmu. Saya tahu banyak tentang dirimu, dari mr hudson. Dan mungkin kau bingung, mengapa bill tak datang di pemakaman ayahnya sendiri? Karna saya memintanya untuk tak datang. Saya meminta keterangannya, dan kau tahu.. Ia banyak cerita tentang dirimu.”

“Baiklah, akan kujelaskan dugaan saya mengapa saya sangat percaya anda adalaah pembunuh mr hudson. Pertama: Ketika saya meminta keterangan, anda memberikan keterangan palsu. Kedua: Saya tahu dari bill, jika hubunganmu dengan alexa sangat rumit. Mr hudson, tidak merestui hubungan kalian bukan. Ketiga: Sikapmu berubah ketika pembunuhan mr hudson, kau sering cemas, dan ketakutan. Dan itulah perasaan yang akan selalu di dapatkan oleh seorang pembunuh. Keempat: mr hudson sangat tidak menyukaimu, itu keluar dari mulutnya sendiri. Jadi kau membunuh mr hudson, agar kau bisa menikahi alexa. Karna sejujurnya, Mr. Hudson tidak merestui hubungan kalian.

“Sebenarnya dugaanku ini sangat lemah dan belum bisa menyeretmu ke dalam penjara. Tetapi mengapa saya sangat seberani ini.. karna matamu. Matamu banyak berbicara lain kepadaku.”

“Akhirnya...”

“Kau mau mengakuinya di depan publik?”

“Tentu.”


                                                    ***


Besoknya, sebuah koran ternama memberitakan mengenai tewasnya polisi muda di sebuah selokan kota, dengan luka yang hampir persis seperti Mr. Hudson.

1 comment: